from my chronicle today
Q: Sudah berapa kericuhan yang terjadi di Indonesia baru-baru ini?
(Saya berharap tidak ada pihak yang tersinggung dengan tulisan ini karena saya tidak membicarakan apalagi menjelekkan pihak manapun. Tujuan saya menulis hal ini adalah untuk mengungkapkan opini mengenai kondisi sosial bangsa kita ini. )
Well, capek juga pake bahasa formal seperti di paragraf sebelumnya.. Tapi kalau mau menulis yang 'kayak gini' sih emang harus ditulis dulu 'pemberitahuan akan maksud penulisan' biar ngga salah kaprah :p
Ya, begitulah. Miris hati saya ketika mengetahui kericuhan-kericuhan yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia yang notabene disebabkan oleh perbedaan agama, kepercayaan, dan ras. Sekalipun 'kericuhan baru-baru ini' tersebut ngga ada hubungannya dengan saya, tapi di dalam sudut hati saya, saya mencoba menggali lebih dalam apa sih sebenarnya pemicu peristiwa tersebut. Ditambah lagi saya anak IPS yang akan langsung 'on' kalau menyangkut masalah sosial seperti ini. Langsung deh saya tergoda untuk menulis kali ini; karena emang perlu juga, sih.
Yap, sodara-sodara. Di pelajaran PKn kita tentu belajar mengenai Pancasila dan Sumpah Pemuda, bukan? Begitulah, kita semua yang pernah mengenyam pendidikan berkurikulum nasional tentu mengenal sejarah Pancasila dan Sumpah Pemuda. Sekalipun Sumpah Pemuda diikrarkan pd tahun 1928 dan Pancasila baru 'lahir' tahun 1945, pernahkah Anda menyadari bahwa kedua 'jimat bangsa' tersebut memiliki kesamaan? Inilah yg saya temukan;
Keduanya sama-sama konsensus bangsa IndonesiaKonsensus secara harafiah artinya hasil pemikiran yg disepakati bersama melalui forum dan diskusi mendasar. Ya, Sumpah Pemuda dan Pancasila sama-sama lahir dari rapat-rapat orang-orang penting yang mewakili bangsa kita. Walau pada kedua masa itu sebagian diantara kita belum lahir, tapi tetap saja itu isi jiwa bangsa kita. Faktanya, kalo ditanya orang, "Eh, bo, ideologi negara lo apa sih?" tentu sebagai orang Indonesia kita langsung menjawab, "PANCASILA, bo!"
Itu dia! Pancasila! Yang saya soroti di sini adalah sila ke-3; Persatuan Imdonesia. Oke sobat, menurut saya konsep persatuan itu bisa dimaknai dalam berbagai sudut pandang. Namun dlm topik postingan saya kali ini, 'persatuan' yang saya maksud adalah persatuan sebagai masyarakat multikultural. Kita semua tahu kalau budaya dan agama di Indonesia itu banyaaaakk banget. Negara lain aja paling adanya 2 ato 3.., kita punya 5! Termasuk di dalamnya aliran kepercayaan yang telah diakui. Yang saya heran, nih, ya, kalo udah tau tinggal di negara yg memiliki diversitas budaya, kenapa sih hal tsb tidak dimaknai dengan benar? Memang, menerima perbedaan itu sangat sulit. Jangankan beda budaya dan agama, kita lihat temen kita sok kecentilan aja jadi panas, kan?? Begitu pula dengan perbedaan di negara kita. Alangkah indahnya kalau semua orang bisa bersatu-padu meskipun berbeda-beda. Meraih persatuan memang TIDAK INSTAN, tapi BISA! Bisa.., kalau setiap orang mau saling menghargai. Bisa, kalau setiap orang tidak menanggapi sesuatu secara radikal. Bisa, kalo chauvinisme dihilangkan.
Lebih dari itu, tindakan yang (sebut saja) radikal itu sebenarnya malah membuat pelakunya tidak mendapat simpati. Kalau aksi protes yang radikal dimuat di media, pasti akan banyak masyarakat yang menanggapi; protes balik. Lagi pula, orang lain ngga bisa diubah hanya dengan protes (apalagi kalo protesnya sampai rusak-rusakin fasilitas umum, bakar-bakar mobil orang, dst). Ngga ngefek, atuh bang..
Protes ya protes aja. Itu sah kok. Dan itu adalah hak setiap orang dalam negara ini. Tapi aksi protes tidak bisa bila dimaknai sebagai 'waktunya protes sambil rusakin fasilitas umum dan melukai orang
innocent kalo udah emosi'. Salah pesepsi, 'sob!
Buat apa ucapin Pancasila tiap upacara & nyanyi lagu Indonesia Raya kalo dalam prakteknya tidak dilaksanakan???
Ngga pernah protes pada isi Sumpah Pemuda 'kan? Ngga pernah protes pada Pancasila kan? Berarti udah setuju, dong.. Kita sama-sama dalam proses belajar untuk mencapai keadaan yang stabil dan damai. Ayo kita saling bekerja sama agar peristiwa yg sama terjadi lagi.